Perlukah Kita Bernazar ???

“Nazar”, kata ini pertama kali saya tau maknanya saat duduk di bangku SMA, dari guru agama waktu itu. Akhir-akhir ini saya sadar, menurut pendapat pribadi nih, kalo bisa janganlah kita membuat nazar… sedikit menyesal krn 3 tahun lalu entah  lupa karena kejadian apa sampai2 saya bernazar yang “cukup” berat,, tapi insyaAllah measurable dan berpahala amiin…

Pengetahuan saya ttg nazar waktu itu masih minim, sehingga begitu mudahnya mengucap nazar saat itu…. Astaghfirullah 😦

Tergelitik jemari  saya untuk mencari berbagai informasi tentang segala hal yang berkaitan dengan nazar. Sebenernya ada ngga sih nazar itu dalam Islam?! Boleh ngga sih? Bagaimana hukumnya? Di tulisan kali ini saya sedikit merangkum informasi2 ttg nazar dari beberapa sumber yang Insya Allah dapat dipercaya…

Nazar pada dasarnya adalah janji kepada Allah. Janji akan melakukan suatu kebaikan ketika apa yang menjadi keinginan kita dipenuhi oleh Allah. Setelah baca beberapa artikel, saya baru tau kalo ternyata masih terdapat perbedaan pendapat para ulama pada hukum nazar itu sendiri.

Informasi dari link ini, menyebutkan bahwa bernazar itu hukumnya makruh, dasarnya adalah beberapa dalil hadits berikut:

Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم melarang untuk bernazar, beliau bersabda :

لا تنذروا فإن النذر لا يغني من القدر شيئا وإنما يستخرج من البخيل

“Janganlah kalian bernazar. Sesungguhnya ia tidak bisa mempengaruhi takdir. Sesungguhnya nazar itu hanya dilakukan oleh orang yang kikir.” [HR Muslim (1640)]

Di dalam riwayat Ibnu Umar:

النذر لا يقدم شيئا ولا يؤخره وإنما يستخرج به من البخيل

“Nazar itu tidak bisa mempercepat datangnya sesuatu atau memperlambatnya. Sesungguhnya nazar itu hanya dilakukan oleh orang yang kikir.” [HR Muslim (1639)]

Berikut penjelasan dari hadits tsb.

Para ulama menjelaskan makna kalimat “Sesungguhnya nazar itu hanya dilakukan oleh orang yang kikir”. Maknanya adalah pada umumnya seorang yang kikir tidaklah pernah mau mengeluarkan hartanya kecuali bisa mendapatkan gantinya dalam jumlah yang lebih banyak dalam waktu yang cepat. Begitupula seorang pelaku nazar biasanya tidak pernah melakukan nazar secara murni sukarela, akan tetapi dia melakukan nazar sebagai imbalan atas pengabulan permintaannya, seperti penyembuhan penyakit atau hal-hal yang lainnya. (mengutip dari sumber ini)

Jadi, sebaiknya hati-hatilah jika kita berniat untuk bernazar… kalo bisa tahan diri kita untuk bernazar. Tetap berkhusnuzon, sabar, istiqomah berdoa dan tawakkal pada Allah apapun itu hasilnya insyaAllah itu yang terbaik menurut Allah. Kita tidak pernah tau seperti apa skenario-Nya mengatur jalan hidup kita. Berserah dan berpasarahlah setelah berusaha seoptimal mungkin, hmmh klise ya? tapi yaa begitulah hidup, it’s a must!! 🙂

Lantas, bagaimana bagi kita yang sudah terlanjur mengucap nazar?

Selama nazar itu dalam bentuk ketaatan pada Allah, maka kita harus menunaikannya. Sebaliknya, jika nazar itu dalam bentuk maksiat, maka kita harus meninggalkannya.

Berikut adalah dalil-dalil yang mewajibkan kita menunaikan nazar:

وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ

“Maka hendaklah mereka menunaikan nazar mereka.” [QS Al Hajj: 29]
Firman Allah ta’ala:
 يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا
“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” [QS Al Insan: 7]
Dari sunnah, hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلَا يَعْصِهِ
“Barangsiapa yang bernazar untuk menaati Allah maka taatilah Dia.
 Barangsiapa yang bernazar untuk bermaksiat kepada Allah maka janganlah dia bermaksiat kepada-Nya.” [HR Al Bukhari (6696)]

Nah, sekarang bagaimana kalo misalkan kita tidak mampu membayar nazar? Maksudnya, nazar yang kita ucapkan dahulu merugikan diri sendiri dan tidak baik, nah ini ada solusinya yang saya peroleh informasinya dari forum konsultasi di Republika:

Jika nazar yang kita ucapkan sifatnya merugikan dan tidak baik, maka kita batalkan nazar tersebut dan wajib bagi kita untuk menebusnya dengan kaffarat nazar. Serta mohon ampunan-Nya atas kelalaian kita mengucapkan nazar tersebut. Rasulullah bersabda:

“jika kamu telah bersumpah, kemudian melihat yang lebih baik daripada sumpahmu, maka lakukanlah tebusan kaffarat sumpahmu, kemudian lakukanlah yang lebih baik.” (Muslim no. 3120).

Tebusan pelanggaran nazar sama dengan tebusan (kaffarah) pelanggaran sumpah yaitu memilih salah satu di antara beberapa pilihan: Memberi makan 10 orang miskin dengan makanan yang biasa diberikan kepada keluarga sendiri, atau memberikan pakaian pada 10 orang miskin, atau memerdekakan seorang budak. Dan orang yang tidak mampu melakukan itu semua, maka kaffarah-nya puasa 3 hari.

Allah berfirman, “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah) tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafarat sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kafarat sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar).” (QS Al Maidah: 89).

Dilihat dari hukum nazar itu sendiri, ada penggolongan sbb:

1.Nazar taat dan ibadah, ini wajib ditunaikan dan bila dilanggar harus membayar kaffarah (tebusan).
2.Nazar mubah, yaitu bernazar untuk melakukan suatu perkara yang mubah/diperbolehkan dan bukan ibadah maka boleh memilih melaksanakannya atau membayar kaffarah.
3.Nazar maksiat, nazarnya sah tapi tidak boleh dilaksanakan dan harus membayar kaffarah.
4.Nazar makruh, yaitu bernazar untuk melakukan perkara yang makruh maka memilih antara melaksanakannyaatau membayar kaffarah.
5.Nazar syirik, yaitu yang ditujukan untuk mendekatkan diri kepada selain Allah maka nazarnya tidak sah dan tidak ada kaffarah, akan tetapi harus bertaubat karena dia telah berbuat syirik akbar

Dari rangkuman informasi2 yang saya dapat itu, saya pribadi sudah berniat untuk tidak melakukan nazar lagi. Cukup nazar yang lalu dan harus segera ditunaikan!!

Hmmh cukup panjang lebar ya, semoga informasi ini bermanfaat bagi saya maupun Anda blog walker yang terdampar di blog saya 🙂

Author: asa

Green lover ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s