Kuret Karena Diagnosa Kematian Mudigah (Keguguran)

Assalamu’alaikum sob…

Alhamdulillah, 6 hari lalu saya selesai menjalani kuretase dan sekarang masih bed rest pasca kuret. Lewat postingan ini saya ingin berbagi informasi dengan sobat mengenai proses kuretase yang saya lakukan pekan lalu. Semoga postingan ini bisa menjadi tambahan pengetahuan bagi sobat yang akan melakukan operasi kuret.. 🙂

Setelah renovasi rumah kami di Bogor selesai akhir Oktober kemarin,  setiap weekend dalam 2 minggu sekali, saya dan suami menginap di rumah Bogor. Rencana awalnya, kami akan pindah ke rumah itu bulan Desember.. tapi berhubung awal November Alhamdulillah saya dinyatakan positif hamil, kami memutuskan untuk tetap tinggal di kontrakan daerah Ragunan yang dekat dengan kantor saya sebab kondisi saya saat awal hamil waktu itu gampang sekali capek dan sering mual muntah. Sampai suatu ketika weekend awal Desember kami menginap di rumah Bogor. Disana aktivitas kami banyak jalan-jalan dan bisa dibilang  cukup sangat melelahkan. Dan pada hari Minggu siangnya saya shock ada flek sedikit yang keluar. Saya sempat panik! Saya khawatir dan menelpon RSIA tempat saya kontrol dan ternyata hari Minggu ngga ada dokter obgyn yang praktik. Berulang kali saya cek apakah ada darah yang keluar setelahnya dan Alhamdulillah ngga ada sehingga saya menjadi cukup tenang namun kekhawatiran terus ada. Keesokan harinya, Senin,   kontrollah saya ke dokter kandungan di KMC (Kemang Medical Care). Saat itu sebelum cek usg, saya cerita ttg flek yang saya alami kemarin ke dr. Diah. Dokter bilang kalau flek itu hal biasa ketika seorang ibu mengalami kecapekan. Kemudian dokternya mengajak untuk usg. Dan… ya kejadian yang membuat saya shock dimulai! Ukuran janin bertambah panjang dari panjang janin minggu lalu. Ya, usianya sudah 9 minggu dan panjang janin sekitar 2,45 cm. Akan tetapi,, denyut jantung janin tidak ada 😥 Padahal minggu lalu saya kontrol, detak jantungnya ada dan normal sekitar 120 per detik. Kemudian dokternya coba usg trans vaginal, saya sudah mulai cemas dan dalam hati memotivasi janin dalam kandungan “Hayo dek tunjukin detak jantungmu yaah…”. Ternyata usg trans vaginal juga tidak mendeteksi detak jantung janin saya. Ya Allah, hati saya mulai hancur dan sediih banget… pengen nangis tapi saya tahan karena malu  juga kalau nangis sesenggukan di depan dokter dan susternya *suami saat itu menunggu di luar ruangan. Saya coba tetap menahan tangis saya,  dokter bilang kalau ini semua bisa terjadi karena keterbatasan alat, jadi saya diminta 2 minggu lagi kembali untuk cek usg ulang. Dokter bilang obat dan vitamin hamil yang biasa diminum tetap saja diminum selama 2 minggu itu. Dokter menyarankan juga jangan menyalahkan diri sendiri atau siapapun, saya harus ikhlas jika memang nanti janin saya memang sudah tidak ada karena itu memang kehandak terbaik dari Allah. Dokter juga bilang jika selama dalam 2 minggu itu terjadi pendarahan, saya harus segera ke RS. Saat itu saya sudah speechles ngga bisa bertanya lagi… Keluar dari ruangan, suami menghampiri dan tangis saya udah tidak bisa terbendung. Sudah tidak peduli dengan lalu lalang orang, saya menangis dan suami saya menenangkan dan memotivasi saya untuk selalu berpikir positif. Tangis saya tetap tak tertahan dalam perjalanan pulang dan ketika sampai rumah.. Sebelum tidur, saya mencoba ikhlas dan beristighfar.. bahwa itu semua sudah Qadarullah… InsyaAllah itulah yang terbaik buat kami saat itu. Semenjak itu, rasa mual dan muntah saya sudah mulai berangsur-angsur hilang dan saya pun sudah mulai ikhlas dan legawa. Seminggu setelahnya, saya coba ke dokter Giri di RSPI untuk second opinion, disana alat USG nya terlihat detail aliran darah dalam rahim. Dan dokter Giri juga menyatakan kalo janinnya sudah positif tidak ada (fetal death) diindikasikan dengan tidak terlihatnya aliran darah ke janin.. dokter Giri menyarankan untuk segera kuret. Saat itu saya sudah mempersiapkan diri untuk ikhlas dan tegar untuk mendengar  hasil apapun dari analisa dokter. Dan, beberapa hari kemudian saya kembali ke KMC untuk konsultasi kuret. Jadwal kuret dijadwalkan hari Rabu, 16 Desember 2015. Yaa baru ngeh ternyata bertepatan dgn ultah kantor..

Seperti apa proses kuret yang terjadi? Hoya kuret itu apa? Kuret adalah proses pembersihan rahim dari sisa jaringan kehamilan yang masih ada. Ada juga beberapa orang yang keguguran tapi tidak harus dikuret karena biasanya mereka sudah mengalami keguguran alami yakni pendarahan alami yang semua jaringan keluar dengan sendirinya sehingga rahimnya bersih dari jaringan sisa-sisa kehamilan.

Hari itu, Rabu pagi saya dan suami sudah berada di KMC jam 6 pagi. Saya melakukan tes lab kemudian dibawa ke ruang observasi persalinan lantai 2. Sekitar jam setengah 11 suster dan bidan memasukkan obat melalui vagina agar obat itu larut, obat itu untuk membuka jalan lahir. Efek beberapa saat setelah obat itu larut adalah perut rasanya mulas, sakit sangat dan badan sempat menggigil.. Ya Allah seperti itu ya rasanya melahirkan.. Dua jam kemudian suster menginfus saya dan memasukkan cairan yang digunakan untuk melancarkan aliran darah. TIdak lama setelah cairan infus dimasukkan, perut makin mules dan” brusss” keluar cairan yang ternyata darah yang sangat banyak melalui  jalan lahir. Saya banyak baca sholawat dan istighar, sambil menikmati rasa sakitnya sembari menunggu waktu operasi kuret jam 5 sore.

Jam 5 sore, saya dibawa ke meja operasi. Rada parno melihat isi ruang operasi plus hawa dinginnyyaa.. Dokter anestesi dan dokter obgyn lalu datang. Posisi kaki saya dianaikkan dan diletakkan di alat penyangga. Lalu Dokter obgyn tanya mau mimpi apa mba Asa nanti? Dan kemudian dokter memasukkan cairan infus. Itu hal yang saya ingat terakhir sebelum akhirnya saya terbangun dimana sudah tidak ada orang dalam ruang operasi kecuali suster. Sudah selesai ya sus? Itu pertanyaan pertama yang saya tanyakan ketika tengah tersadar. Nampaknya saya dibiarkan dahulu untuk pemulihan pasca anestesi.. Adzan maghrib berkumandang dan saya sendirian di ruangan itu merasa haru, Alhamdulillah terimakasih ya Allah operasi kuretnya berjalan lancar. Kalau ditanya sakit ngga? Ngga sakit kok, karena kita dibius total. Yang sakit malah sebelum kuret yakni setelah dirangsang melalui obat untuk membuka jalan lahir.

Yaa itulah pengalaman kuret saya,,  pengalaman yang sangat berharga buat kami berdua. Pengalaman yang mebuat kami insyaAllah akan lebih berhati-hati menjaga kehamilan terutama pada tri semester pertama karena masa itu sangat rawan… Tetep semangat sob, semoga kita semua diamanahi keturunan yang soleh solehah amiinn ^^

 

Author: asa

Green lover ;)

4 thoughts on “Kuret Karena Diagnosa Kematian Mudigah (Keguguran)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s