Damba Cinta-Mu

Damba Cinta-Mu ~ Raihan

Tuhanku ampunkanlah segala dosaku
Tuhanku maafkanlah kejahilan hambaMu

Ku sering melanggar laranganMu
Dalam sedar ataupun tidak
Ku sering meninggalkan suruhanMu
Walau sedar aku milikMu

Tuhanku ampunkanlah segala dosaku
Tuhanku maafkanlah kejahilan hambaMu

Bilakah diri ini kan kembali
Kepada fitrah sebenar
Pagi ku ingat petang ku alpa
Begitulah silih berganti

Oh Tuhanku Kau pimpinlah diri ini
Yang mendamba cintaMu
Aku lemah aku jahil
Tanpa pimpinan dariMu

Ku sering berjanji depanMu
Sering jua ku memungkiri
Ku pernah menangis keranaMu
Kemudian ketawa semula

Bilakah diri ini kan kembali
Kepada fitrah sebenar
Pagi ku ingat petang ku alpa
Begitulah silih berganti

Oh Tuhanku Kau pimpinlah diri ini
Yang mendamba cintaMu
Aku lemah aku jahil
Tanpa pimpinan dariMu

Kau Pengasih Kau Penyayang Kau Pengampun
Kepada hamba-hambaMu
Selangkah ku kepadaMu
Seribu langkah Kau pada ku

Tuhan diri ini tidak layak ke syurga Mu
Tapi tidak pula aku sanggup ke neraka Mu

Ku takut kepadaMu
Ku harap jua padaMu
Moga ku kan selamat dunia akhirat
Seperti rasul dan sahabat

Perlukah Kita Bernazar ???

“Nazar”, kata ini pertama kali saya tau maknanya saat duduk di bangku SMA, dari guru agama waktu itu. Akhir-akhir ini saya sadar, menurut pendapat pribadi nih, kalo bisa janganlah kita membuat nazar… sedikit menyesal krn 3 tahun lalu entah  lupa karena kejadian apa sampai2 saya bernazar yang “cukup” berat,, tapi insyaAllah measurable dan berpahala amiin…

Pengetahuan saya ttg nazar waktu itu masih minim, sehingga begitu mudahnya mengucap nazar saat itu…. Astaghfirullah 😦

Tergelitik jemari  saya untuk mencari berbagai informasi tentang segala hal yang berkaitan dengan nazar. Sebenernya ada ngga sih nazar itu dalam Islam?! Boleh ngga sih? Bagaimana hukumnya? Di tulisan kali ini saya sedikit merangkum informasi2 ttg nazar dari beberapa sumber yang Insya Allah dapat dipercaya…

Nazar pada dasarnya adalah janji kepada Allah. Janji akan melakukan suatu kebaikan ketika apa yang menjadi keinginan kita dipenuhi oleh Allah. Setelah baca beberapa artikel, saya baru tau kalo ternyata masih terdapat perbedaan pendapat para ulama pada hukum nazar itu sendiri.

Informasi dari link ini, menyebutkan bahwa bernazar itu hukumnya makruh, dasarnya adalah beberapa dalil hadits berikut:

Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم melarang untuk bernazar, beliau bersabda :

لا تنذروا فإن النذر لا يغني من القدر شيئا وإنما يستخرج من البخيل

“Janganlah kalian bernazar. Sesungguhnya ia tidak bisa mempengaruhi takdir. Sesungguhnya nazar itu hanya dilakukan oleh orang yang kikir.” [HR Muslim (1640)]

Di dalam riwayat Ibnu Umar:

النذر لا يقدم شيئا ولا يؤخره وإنما يستخرج به من البخيل

“Nazar itu tidak bisa mempercepat datangnya sesuatu atau memperlambatnya. Sesungguhnya nazar itu hanya dilakukan oleh orang yang kikir.” [HR Muslim (1639)]

Berikut penjelasan dari hadits tsb.

Para ulama menjelaskan makna kalimat “Sesungguhnya nazar itu hanya dilakukan oleh orang yang kikir”. Maknanya adalah pada umumnya seorang yang kikir tidaklah pernah mau mengeluarkan hartanya kecuali bisa mendapatkan gantinya dalam jumlah yang lebih banyak dalam waktu yang cepat. Begitupula seorang pelaku nazar biasanya tidak pernah melakukan nazar secara murni sukarela, akan tetapi dia melakukan nazar sebagai imbalan atas pengabulan permintaannya, seperti penyembuhan penyakit atau hal-hal yang lainnya. (mengutip dari sumber ini)

Jadi, sebaiknya hati-hatilah jika kita berniat untuk bernazar… kalo bisa tahan diri kita untuk bernazar. Tetap berkhusnuzon, sabar, istiqomah berdoa dan tawakkal pada Allah apapun itu hasilnya insyaAllah itu yang terbaik menurut Allah. Kita tidak pernah tau seperti apa skenario-Nya mengatur jalan hidup kita. Berserah dan berpasarahlah setelah berusaha seoptimal mungkin, hmmh klise ya? tapi yaa begitulah hidup, it’s a must!! 🙂

Lantas, bagaimana bagi kita yang sudah terlanjur mengucap nazar?

Selama nazar itu dalam bentuk ketaatan pada Allah, maka kita harus menunaikannya. Sebaliknya, jika nazar itu dalam bentuk maksiat, maka kita harus meninggalkannya.

Berikut adalah dalil-dalil yang mewajibkan kita menunaikan nazar:

وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ

“Maka hendaklah mereka menunaikan nazar mereka.” [QS Al Hajj: 29]
Firman Allah ta’ala:
 يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا
“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” [QS Al Insan: 7]
Dari sunnah, hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلَا يَعْصِهِ
“Barangsiapa yang bernazar untuk menaati Allah maka taatilah Dia.
 Barangsiapa yang bernazar untuk bermaksiat kepada Allah maka janganlah dia bermaksiat kepada-Nya.” [HR Al Bukhari (6696)]

Nah, sekarang bagaimana kalo misalkan kita tidak mampu membayar nazar? Maksudnya, nazar yang kita ucapkan dahulu merugikan diri sendiri dan tidak baik, nah ini ada solusinya yang saya peroleh informasinya dari forum konsultasi di Republika:

Jika nazar yang kita ucapkan sifatnya merugikan dan tidak baik, maka kita batalkan nazar tersebut dan wajib bagi kita untuk menebusnya dengan kaffarat nazar. Serta mohon ampunan-Nya atas kelalaian kita mengucapkan nazar tersebut. Rasulullah bersabda:

“jika kamu telah bersumpah, kemudian melihat yang lebih baik daripada sumpahmu, maka lakukanlah tebusan kaffarat sumpahmu, kemudian lakukanlah yang lebih baik.” (Muslim no. 3120).

Tebusan pelanggaran nazar sama dengan tebusan (kaffarah) pelanggaran sumpah yaitu memilih salah satu di antara beberapa pilihan: Memberi makan 10 orang miskin dengan makanan yang biasa diberikan kepada keluarga sendiri, atau memberikan pakaian pada 10 orang miskin, atau memerdekakan seorang budak. Dan orang yang tidak mampu melakukan itu semua, maka kaffarah-nya puasa 3 hari.

Allah berfirman, “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah) tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafarat sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kafarat sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar).” (QS Al Maidah: 89).

Dilihat dari hukum nazar itu sendiri, ada penggolongan sbb:

1.Nazar taat dan ibadah, ini wajib ditunaikan dan bila dilanggar harus membayar kaffarah (tebusan).
2.Nazar mubah, yaitu bernazar untuk melakukan suatu perkara yang mubah/diperbolehkan dan bukan ibadah maka boleh memilih melaksanakannya atau membayar kaffarah.
3.Nazar maksiat, nazarnya sah tapi tidak boleh dilaksanakan dan harus membayar kaffarah.
4.Nazar makruh, yaitu bernazar untuk melakukan perkara yang makruh maka memilih antara melaksanakannyaatau membayar kaffarah.
5.Nazar syirik, yaitu yang ditujukan untuk mendekatkan diri kepada selain Allah maka nazarnya tidak sah dan tidak ada kaffarah, akan tetapi harus bertaubat karena dia telah berbuat syirik akbar

Dari rangkuman informasi2 yang saya dapat itu, saya pribadi sudah berniat untuk tidak melakukan nazar lagi. Cukup nazar yang lalu dan harus segera ditunaikan!!

Hmmh cukup panjang lebar ya, semoga informasi ini bermanfaat bagi saya maupun Anda blog walker yang terdampar di blog saya 🙂

Peristiwa Subuh…

Nice song from raihan… ( merasa tersindir,, setelah bangun padahal udah denger azan shubuh,, eh malah lanjut tidur lagi,, astaghfirullah,,,)

Tabuh berbunyi gemparkan alam sunyi
Berkumandang suara adzan
Mendayu memecah sepi
Selang seli sahutan ayam

Tabuh berbunyi gemparkan alam sunyi
Berkumandang suara adzan
Mendayu memecah sepi
Selang seli sahutan ayam

Tapi insan kalaupun ada hanya
Mata yang celik dipejam lagi
Hatinya penuh benci
Berdengkurlah kembali
Begitulah peristiwa di subuh hari
Suara insan di alam mimpi

Tabuh berbunyi gemparkan alam sunyi
Berkumandang suara adzan
Mendayu memecah sepi
Selang seli sahutan ayam

Ayuh bangunlah
Tunaikan perintah Allah
Bersujud mengharap keampunan-Nya
Bersyukurlah bangkitlah segera
Moga mendapat keridhoan-Nya
Begitulah peristiwa di subuh hari
Setiap pagi setiap hari

Tabuh berbunyi gemparkan alam sunyi
Berkumandang suara adzan
Mendayu memecah sepi
Selang seli sahutan ayam

Nikmat-Nya yang manakah yang kau dustakan?

sehat, inilah salah satu nikmat yang terlupakan oleh banyak orang.
tiga hari ini, demam n sakit kepala menghentikan segala aktivitas yang semestinya harus dikerjakan. badan terasa pegal2, lidah berasa pahit, dan semua makanan yang dimakan berasa hambar dan memuakkan. Otak seolah-olah gak mau diajak sedikit berpikir keras, pengennya tidur mulu,, padahal dengan tidur, rasa pusing semakin bertambah. Sehat, ya.. saya ingin segera sembuh Ya Allah,, masih banyak amanat yang harus dikerjakan,,
Hari ini ke kampuspun, benar2 dipaksakan untuk bisa datang.. ada deadline PBK, jadi rindu bapak dan ibuk di rumah niy 😥

Sampai di kampus.. Alhamdulillah ada kabar yang membawa angin segar 😉 Ternyata, presentasi kelompok PBK saya, ditentuin hari Rabu oleh Pak  Hari.. makasih ya Pak.. sedikit lega niy..

Mengapa Islam Melarang Meniup Makanan atau Minuman?

Islam is perfect.. hal terkecil maupun berbagai hal lain yang kita anggap sepele, diatur dalam Islam, misalnya saja untuk memotong kuku.. ada aturannya juga, masih teringat benar sampai sekarang saat itu guru agama menjelaskan bagaimana cara memotong kuku.. dimulai dari jari tengah tangan kanan, bergerak ke jari manis dan kelingking, ibujari , dan telunjuk, then ganti tangan kiri mulai dari ibu jari berurut sampai kelingking, nah,, selanjutnya pindah ke kelingking kaki kanan bergerak berurut sampai kelingking kaki kiri.. Nah untuk aturan potong kuku ini, saya belom tau manfaatnya apa. Mungkin diantara pembaca ada yang mengetahuinya, tolong ditanggapi ya?

Bagaimana saat makan dan minum pun ada aturan mainnya, ga boleh berdiri saat makan maupun minum, kalo minum jangan langsung sekali teguk, dan juga jangan meniup makanan atau minuman. Sebagaimana dalam hadits, Ibnu Abbas menuturkan

“Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya”. (HR. At Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).


Barusan saya baca dari milis, dari situlah saya tau mengapa kita dilarang meniup makanan. Bersumber pada salah satu milis kimia di Indonesia, ternyata, saat kita meniup makanan atau minuman, tiupan kita itu mengeluarkan gas CO2 yaitu karbon dioksida, yang apabila bercampur dengan air (H20), akan menjadi H2CO3 (asam karbonat), yaitu sama dengan cuka, menyebabkan minuman itu menjadi acidic. Begitu pula dengan minum dalam sekali teguk, dalam sekali tegukan itu ada kemungkinan kita bernapas dan menghembuskannya saat kita minum, dan reaksi kimia di atas terjadi.

Subhanallah ya.. Selalu ada hikmah di balik semua aturan Islam.